Muda Berdaya Conference 2026: Platform bagi Remaja Panti Asuhan untuk Bersuara, dan Menciptakan Perubahan
Bagi banyak remaja yang tumbuh di panti asuhan, kesempatan untuk bertemu mentor, memperluas jaringan, mengikuti forum pembelajaran, atau menyampaikan gagasan sering kali masih menjadi hal yang sulit diakses. Padahal, mereka memiliki potensi yang sama besarnya untuk menjadi pemimpin dan agen perubahan di masa depan.
Berangkat dari keyakinan tersebut, Yayasan Muda Berdaya Bersama menghadirkan Muda Berdaya Conference 2026: Digital Democracy Edition, sebuah ruang belajar yang dirancang khusus bagi remaja panti asuhan agar mereka dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menyampaikan pendapat dengan percaya diri, serta memahami bagaimana menggunakan ruang digital secara bertanggung jawab.
Mengapa remaja panti asuhan membutuhkan ruang belajar yang berbeda?
Banyak program pengembangan diri dan konferensi ditujukan untuk anak muda secara umum. Namun, dalam praktiknya, materi, bahasa, hingga studi kasus yang digunakan sering kali belum relevan dengan pengalaman hidup remaja panti asuhan.
Selain keterbatasan biaya untuk mengikuti kegiatan serupa, mereka juga menghadapi tantangan berupa minimnya akses terhadap mentor, role model, serta lingkungan yang mendorong mereka untuk percaya diri menyampaikan pendapat.
Akibatnya, banyak remaja merasa bahwa suara mereka tidak cukup penting untuk didengar.
Padahal, perubahan sosial justru membutuhkan keberagaman perspektif—termasuk perspektif dari anak-anak muda yang selama ini jarang memperoleh ruang untuk berbicara.
Muda Berdaya Conference 2026: Ruang Belajar yang Inklusif
Pada 24 Mei 2026, sebanyak 75 remaja dari enam panti asuhan di Jabodetabek berkumpul dalam Muda Berdaya Conference 2026: Digital Democracy Edition di MBloc Space, Jakarta.
Mengusung tema "Empowering Youth to Think Critically and Confidently in Digital Spaces", konferensi ini tidak hanya menghadirkan sesi seminar, tetapi juga pengalaman belajar yang partisipatif. Peserta diajak berdiskusi, bekerja dalam kelompok, mengidentifikasi permasalahan di sekitar mereka, hingga merancang kampanye digital yang dapat memberikan dampak positif bagi komunitas.
Melalui pendekatan ini, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga belajar menerapkan pengetahuan tersebut ke dalam solusi nyata.
Dalam konferensi ini, peserta diajak untuk memahami bahwa ruang digital bukan sekadar tempat berbagi informasi, tetapi juga ruang untuk berpartisipasi sebagai warga negara yang aktif, kritis, dan bertanggung jawab.
Melalui berbagai aktivitas interaktif, mereka belajar untuk:
berpikir kritis terhadap informasi yang mereka temui,
memahami pentingnya literasi digital dan partisipasi warga,
menyampaikan pendapat secara konstruktif,
bekerja sama dalam menyelesaikan permasalahan sosial,
serta merancang kampanye digital yang mampu memberikan dampak positif.
Setiap kelompok kemudian mempresentasikan gagasan mereka di hadapan peserta lain, menunjukkan bahwa setiap anak muda memiliki perspektif yang layak didengar ketika diberikan kesempatan.
Lebih dari Sekadar Konferensi
Bagi sebagian besar peserta, ini merupakan pengalaman pertama mereka mengikuti sebuah konferensi.
Namun, tujuan utama kegiatan ini bukan sekadar menghadirkan acara satu hari, melainkan membuka akses terhadap pengalaman belajar yang selama ini sulit mereka dapatkan.
Kami percaya bahwa sebuah konferensi dapat menjadi ruang bagi anak muda untuk:
belajar dari pengalaman baru,
didengar dan dihargai pendapatnya,
bertemu mentor serta role model,
menyampaikan ide dan solusi,
serta membayangkan masa depan yang lebih luas dari lingkungan yang selama ini mereka kenal.
Ketika seorang remaja mulai percaya bahwa suaranya memiliki arti, di situlah proses perubahan mulai terjadi.
Kolaborasi untuk Menciptakan Dampak
Muda Berdaya Conference 2026 merupakan bagian dari Digital Democracy Initiative, sebuah inisiatif yang bertujuan memperkuat partisipasi digital generasi muda melalui pendekatan yang inklusif dan kontekstual.
Program ini diselenggarakan oleh Yayasan Muda Berdaya Bersama dengan dukungan dari Tifa Foundation, Kawula17.id, dan CIVICUS: World Alliance for Citizen Participation.
Kolaborasi lintas sektor ini menjadi bukti bahwa menciptakan ruang belajar yang inklusif membutuhkan kerja sama berbagai pihak yang memiliki visi yang sama: memastikan setiap anak muda memiliki kesempatan untuk berkembang tanpa memandang latar belakangnya.

